Assalamu’alaikum wr.wb
Sebagai pembukaan posting pada blog ini, saya kasih judul basmallah...lho...ko’..
Hehe...
Maksudnya, untuk postingan pertama saya, saya beri judul METODE YANG COCOK UNTUK PESERTA DIDIK. Tapi
tak ada salahnya kan, dibuka dengan bismillah...
Semoga blog ini bermanfaat bagi para pembaca, disertai ridlo
dan hidayah Allah untuk kita, amin...
Sesuai judulnya, postingan ini bukan untuk pengajar, melainkan pendidik. Sekilas terlihat sama antara
kata pengajar dan pendidik, tetapi jika kita bedakan maka
akan terlihat mana itu seorang pengajar dan mana itu seorang pendidik. Terus apa
bedanya..? mungkin itu kalimat yang paling pantas ditanyakan. Pengajar itu
bukan pendidik, tapi pendidik
itu juga disebut pengajar. Owh, tambah bingung. Ok, mungkin bahasa saya,
pengajar itu menghasilkan anak yang diajar, tapi pendidik menghasilkan anak
yang terdidik. Pengajar itu tugasnya ya hanya mengajar, yang penting datang di
depan anak-anak kemudian memberi materi yang akan diajarkan, sehingga hasilnya
anak hanya pintar otaknya saja, itu pun kalau berhasil. Sedangkan pendidik, dia
tidak hanya membawa materi yang diajarkan, melainkan membawa planing atau
tujuan mendidik anak yang cerdas dalam intelektual, emosional, dan spiritual.
Proses pembelajaran
adalah sebagai sistem, yaitu suatu rangkaian yang antara satu sama lain tidak
dapat dipisahkan atau harus terkait antara satu sama lain, yang antara lain terdiri
dari : Input, proses, dan output.
Input, dalam hal ini adalah siswa atau peserta didik.
Proses, yaitu KBM(kegiatan belajar mengajar). Disini, antara
belajar dengan mengajar harus berdampingan. Mengapa, karena jika cuma belajar,
maka hanya murid yang aktif. Sedangkan guru, hanya memberi materi, tugas dan
yang terahir memberi nilai. Perlu diketahui, model pembelajaran seperti itu
tidak lagi efektif di masa sekarang. Maka dari itu diadakannya KBM(kegiatan
belajar mengajar), sehingga bukan hanya anak yang aktif, melainkan guru juga
ikut aktif dalam membimbing, membangkitkan semangat, dan menggali semua potensi
yang ada dalam diri anak tersebut.
Yang terakhir adalah output, output disini adalah hasil,
yaitu siswa yang terdidik. Baik intelektualnya, emosionalnya, serta spiritual
dan kesehatannya.
Untuk mendapatkan hasil
(siswa terdidik), dalam artian cerdas dalam intelektual, emosional, dan
spiritual, kita harus menemukan metode yang cocok untuk diterapkan kepada
peserta didik kita.
Metode menurut arti simpelnya adalah cara. Jadi, yang harus
kita pelajari yaitu bagaimana cara mengajarkan suatu pelajaran kepada siswa
atau peserta didik. Jika kita ingin menjadi pendidik yang baik di Mata Allah
maupun di mata siswa, maka yang perlu kita ketahui adalah latar belakang siswa
tersebut. Latar belakang siswa, bisa kita lihat lewat, Sosiologisnya,
intelektualnya, psikologisnya, dan biologisnya.
Sosiologisnya, sosiologis disini adalah latar belakang
sosial atau kehidupan sehari-hari anak tersebut. Jadi kita harus mengetahui
bagaimana lingkungan keluarganya.
Intelektual, dalam hal ini yaitu mengenai IQ(intelegent
question), EQ(emotional question), dan SQ(spiritual question).
Psikologis, mengarah ke jiwa. Bagaimana keadaan kejiwaan
anak tersebut, apakah pemalu, pemarah, dll.
Biologis, mengarah ke perkembangan fisiknya. Dan hal ini juga dipengaruhi oleh penangkapan
intelektualnya tentang kedewasaan.
Lho,..bagaimana caranya???mungkin itu yang ada dibenak kita.
Jika kita bayangkan, dalam satu kelas itu terdapat minimal 25 siswa,..apakah
kita harus mengetahui satu persatu. Jawabannya adalah iya, sedangkan latar
belakang siswa tersebut berbeda-beda. Ada yang keluarganya seorang terpandang,
yang satu dari keluarga buruh, petani, pegawai pabrik, dll. Lalu Bagaimana dengan
pelaksanaan pembelajaran yang dianjurkan oleh pemerintah...???Itulah tugas
kita, disamping kurikulum yang dibuat oleh pemerintah, Kita harus mencari waktu
dan tempat yang pas untuk berbicara antara hati ke hati kepada siswa. Kita harus
gali terus informasi tentang peserta didik kita, buat anak didik kita bisa
menatap masa depan, beri semangat, gali terus potensi yang ada dalam dirinya. Ini
adalah tugas tambahan yang penuh amanah yang harus dilakukan oleh seorang
pendidik sejati.




Tidak ada komentar:
Posting Komentar